Founder
Ery Mefri
Lahir di Saniangbaka, Solok Sumatera Barat 23 Juni 1958. Koreografi pertama saya lahir pada tahun 1983 berjudul “NAN JOMBANG” dan sekaligus menjadi nama group yang Saya dirikan dan Saya pimpin sampai sekarang.
Prosesnya saya rasa waktu itu dipicu oleh keinginan untuk mengekspresikan diri dengan meyakini potensi dalam diri serta potensi budaya dan tradisi ( Silek, Randai , Tari Piring) Minangkabau yang Saya yakini sangat kaya ide. Gagasannya sederhana saja, waktu itu mungkin sebatas keinginan menciptakan nuansa koreografi baru, yang tetap berpijak dan berakar pada karakternya tradisi (ruh/spirit) bukan bentuk fisiknya saja, melainkan sebuah misi dari pemikiran dan kecerdasan seorang koreografer.
Proses koreografis yang sangat penting dan sangat mempengaruhi karya- karya tari saya sampai saat ini, karena saya lahir dan hidup di tengah- tengah keluarga seniman tradisi, yang memiliki paham dan anutan tradisi yang kuat. Ayah saya Jamin Manti Jo Sutan (almarhum) dikenal sebagai seorang penari tradisi “Tan Ben Tan “ dengan akar tradisi yang kuat, sementara Ibu Nurjanah adalah seorang penenun benang emas. Dan uniknya, saya tidak pernah belajar atau diajarkan menari piring secara langsung, tapi saya sangat mahir memainkannya. Ini adalah proses sejak saya berumur 3 tahun, dimana setiap 2 kali seminggu saya selalu duduk dan tiduran di pangkuan ayah melihat orang menari piring dan mendengar musik saat Ayah memainkan musik tari piring yang sedang berlatih. Dan pada umur 5 tahun Saya langsung saja bisa menarikannya di saat pesta perkawinan (baralek). Faktor lingkungan adat dan tradisi Minangkabau kedua orangtua yang apresiatif terhadap seni tradisi dan kemudian pilihan saya yang menjadikan tradisi akar penting untuk penggarapan karya kontemporer, dan merupakan paduan yang menyemangati kelahiran koreografi saya sampai saat ini.
Sebagai koreografer yang melahirkan karya- karya kontemporer, acuan atau pijakan tetap tidak terlepas dari adat dan budaya Minangkabau. Dalam setiap karya, unsur kuat tradisi menjadi ruh, spirit yang sangat spesifik pada nuansa gerak, tekhnik hingga filsafah “Alam Takambang Jadi Guru” ( Alam terkembang adalah guru ) yang mengakibatkan akar tradisi Minangkabau dan
Alam tradisi Minangkabau merupakan pasangan nilai- nilai yang sejalan dalam menjalani aktifitas koreografi. Seperti halnya, sama pentingnya saat kita harus mempertanyakan dan mengkaji keberadaan unsur modern dan unsur tradisi. Bagi saya, semakin terkait pada bentuk atau nilai- nilai modern, maka kian tinggi pula tantangan kita untuk menoleh keakar tradisi. Masuknya unsur modern, adalah bagian pengayaan tradisi yang pada dasarnya tidak merusak satu sama lain, melainkan saling melengkapi dan mengisi.
Karakter dari ketradisian Minangkabau menjadi pusat pengembangan dan sumber penemuan Saya bahwa gerak wajar manusia merupakan inti dan sumber pemunculan jati diri karya kontemporer saya. Dan sebagai koreografer , musik merupakan nafas dari karya tari yang saya salurkan melalui penari. Hingga setiap produksi karya, alat- alat musik berusaha dikurangi dan digunakan seminimal mungkin. Karena bagi saya “teriakan kesakitan kita, tak mungkin disuarakan orang lain”.